Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah dan Tujuan Muludan

Setiap orang Islam sangat penting mengenal serta memahami Sejarah dan Tujuan Muludan.  Kegiatan yang selalu dirayakan oleh umat islam di Indonesia dengan menggelar acara yang beragam sesuai dengan budaya yang ada disetiap daerah merupakan ciri pasti dari kecintaan mendalam kepada Jungjunan alam yakni Rosulullah saw.

Sejarah dan Tujuan Muludan

Pengertian Muludan

Maulid Nabi secara harfiah berarti hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kemudian orang muslim sering menyebutnya maulid Nabi Muhammad saw ada juga yang menyebutnya dengan muludan atau maulid Nabi yang dalam bahasa Arabnya مولد النبي mawlid annabi.

Selanjutnya istilah itu dipakai untuk menyebut perayaan memperingati hari di lahirkannya kang jeng Nabi Muhammad SAW. Sampai saat ini khususnya di Nusantara, ketika memasuki bulan Rabiul Awal / Mulud dalam kalender Hijriyyah, umat muslim akan beramai-ramai mengadakan berbagai acara keagamaan, mulai dari tablig akbar hingga yang paling sederhana dengan mengadakan acara sholawatan dan membaca kitab al-barzanji di mesjid dan mushola.

Dari penjelasan tersebut Muludan berarti suatu kegiatan yang diadakan khusus untuk memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad Sholallahu 'Alaihi Wassalam.

Mengadakan kegiatan maulid Nabi Muhammad saw, bukanlah sesuatu yang menyalahi syari'at, namun lebih jauh dari pada itu kegiatan maulid Nabi lebih mengisyaratkan pada pentingnya membangun tali persaudaraan diantara umat Islam.

Sejarah dan tujuan muludan di jadikan hari raya

Menurut para ulama yang mengkaji sejarah, maulid Nabi SAW mulai di rayakan pada masa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi – orang Eropa menyebutnya sebagai Saladin, seorang pemimpin yang berhasil dan pandai mengelola rakyatnya hingga yang paling jelata. Sultan Salahuddin sendiri memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub. Pusat kesultanannya berada di kota Kairo, Mesir. Daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Sultan Salahuddin ini pernah mengatakan; "semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka". Sultan Salahuddin menghimbau kepada umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah, harus dirayakan secara massal oleh semua umat Islam.

Gagasan Sultan Salahudin ini ternyata mendapat sambutan baik dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir dengan menyatakan setuju pada gagasannya. Kemudian Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi),  mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar setiap jamaah haji setelah sampai kembali ke kampung halamannya segera mensosialisasikan kepada masyarakat Islam di kampung halamannya, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi.

Gagasan Sultan Salahuddin ini ditentang oleh sebagian ulama dengan alasan tidak ada hari raya resmi menurut ajaran Islam kecuali dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Kemudian dalam menanggapi alasan ulama yang menentang gagasannya, Sultan Salahuddin menegaskan; bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang.

Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) mengadakan kegiatan sayembara penulisan riwayat perjalanan hidup Nabi Muhammad saw beserta puji-pujian bagi Nabi dengan kriteria keindahan dalam menggunakan bahasa. Semua sastrawan dan para ulama yang memiliki keahlian dalam bidang sejarah dan agama diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Syaikh Ja`far Al-Barzanji keluar menjadi pemenang dalam sayembara tersebut melalui karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji.

"Sesungguhnya aku telah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak"
Kelahiran Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasallama tidak bisa dilepaskan dengan perubahan moralitas kehidupan manusia pada masa itu. Kebiasaan orang Arab secara umum banyak yang tidak sesuai dengan kemanusiaan sampai akhirnya Rosulullah datang dengan membawa risalah kenabian yang memperkenalkan hakikat keberadaan manusia di muka bumi ini.

Bangsa Arab sebelum diperkenalkan dengan cahaya Islam, merupakan bangsa yang masih kebingungan dengan masalah kemanusiaan, karena itulah dimasa ini disebut masa kebodohan atau era jahiliyyah sedang mendera bangsa Arab. Dimasa jahiliyah ini, nilai kemanusiaan memiliki tempat yang sangat rendah dalam kehidupan sosial masayarakatnya pada waktu itu.

Seketika setelah Islam datang melalui seseorang yang sangat mulia yang membawa risalah kenabian, wajah bangsa Arabpun berubah total. Kemanusiaan menjadi karakter istimewa; perbudakan mulai menghilang, kaum wanita yang asalnya tidak memiliki tempat dalam kehidupan sosial kini menjadi makhluk yang wajib dimuliakan serta berbagai tatanan kehidupan yang mengarah pada paradaban kemanusiaan yang sesungguhnya.

Cahaya Islam tidak hanya menerangi bangsa Arab, namun akhirnya menjadi cahaya yang menerangai dunia kehidupan manusia diseluruh dunia. Bagai manapun kehidupan modern saat ini tidak bisa lepas dari cahaya Islam yang dinyalakan dari kawasan Arab pada waktu itu.

"tidak semata-mata kami mengutusmu kecuali agar menjadi rahmat bagi seluruh alam"
Muludan tidak semata-mata digelar untuk memperingati dilahirkannya kang jeng Nabi Muhammad saw namun lebih dari pada itu, untuk mengingatkan umat muslim pada nilai-nilai yang telah diwariskan oleh Rosulullah saw. Sehingga dengan mengambil teladan dari perjalanan kehidupan Rosulullah umat muslim dapat menjadi masyarakat yang selalu siap menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan kemanusiaan yang sebenarnya.
wallhu a'lam bish showab.
Asep Rois
Asep Rois Memandang masa depan itu harus melibatkan kebaikan dalam prasangka. Kemudian melangkah dalam jalur proses dengan penuh keyakinan pada kemampuan diri sendiri.

Posting Komentar untuk "Sejarah dan Tujuan Muludan"

Silahkan Berlangganan Via Email