Makna Hikmah Ketiga Al-Hikam: Jangan Turunkan Cita-Cita Spiritualmu

Daftar Isi

Pelajari makna Hikmah Ketiga Al-Hikam tentang menjaga cita-cita spiritual dan tidak berpaling dari jalan yang Allah pilihkan.

Makna Hikmah Ketiga Al-Hikam

Makna Hikmah Ketiga Al-Hikam: Jangan Turunkan Cita-Cita Spiritualmu

Hikmah Ketiga Al-Hikam

Arab

وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

Terjemah

"Keinginanmu kepada sebab-sebab duniawi, padahal Allah menempatkanmu dalam keadaan tajrid (fokus beribadah), merupakan kemerosotan dari cita-cita yang tinggi."


Ketika Allah Memberimu Kesempatan yang Istimewa

Jika pada hikmah kedua Ibnu Athaillah menjelaskan bahaya meninggalkan dunia secara tidak pada tempatnya, maka pada hikmah ketiga beliau menjelaskan kebalikannya.

Ada kalanya Allah memberikan seseorang kesempatan yang sangat besar untuk mendekat kepada-Nya.

Misalnya:

  • Memiliki banyak waktu untuk menuntut ilmu.

  • Mendapat kesempatan berdakwah.

  • Memiliki lingkungan yang mendukung ibadah.

  • Diberi kemudahan untuk menghafal Al-Qur'an.

  • Diberi kecukupan sehingga tidak terlalu disibukkan urusan dunia.

Namun justru pada saat itulah sebagian orang tergoda untuk mengejar hal-hal yang tidak membawa manfaat akhirat.


Apa Itu Himmah Aliyah?

Dalam hikmah ini terdapat istilah:

الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ (Al-Himmah Al-'Aliyah)

yang berarti:

Cita-cita yang tinggi dan mulia.

Dalam pandangan Islam, cita-cita tertinggi bukanlah sekadar kekayaan, jabatan, atau popularitas.

Cita-cita tertinggi adalah:

  • Meraih ridha Allah.

  • Mendekatkan diri kepada-Nya.

  • Menjadi hamba yang dicintai-Nya.

  • Mendapatkan surga-Nya.

Karena itu, seseorang yang telah diberi jalan menuju kedekatan dengan Allah, lalu meninggalkannya demi urusan yang lebih rendah, dianggap telah menurunkan kualitas cita-citanya.


Jangan Menukar Permata dengan Kerikil

Bayangkan seseorang diberi permata yang sangat berharga.

Lalu ia menukarnya dengan segenggam kerikil.

Tentu semua orang akan menganggapnya rugi.

Begitulah ketika seseorang telah diberi peluang besar untuk memperbanyak ibadah dan ilmu, namun malah menghabiskan waktunya untuk perkara yang tidak bernilai di sisi Allah.

Allah berfirman:

"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

(QS. Al-A'la: 17)


Contoh dalam Kehidupan Modern

Hikmah ini sangat relevan di zaman sekarang.

Banyak orang memiliki akses ilmu yang luar biasa:

  • Kajian online.

  • Kitab digital.

  • Al-Qur'an di genggaman.

  • Ceramah para ulama yang mudah diakses.

Namun ironisnya, waktu lebih banyak dihabiskan untuk:

  • Scroll media sosial tanpa tujuan.

  • Mengikuti gosip selebritas.

  • Konten hiburan berlebihan.

  • Perdebatan yang tidak bermanfaat.

Padahal Allah telah membuka pintu ilmu dan ibadah di hadapannya.


Ketika Dunia Mulai Mengalihkan Fokus

Dunia tidak selalu datang dalam bentuk harta.

Kadang dunia datang dalam bentuk:

  • Popularitas.

  • Pujian manusia.

  • Pengakuan sosial.

  • Keinginan untuk terlihat sukses.

Semua itu dapat membuat seseorang melupakan tujuan utamanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir."

Hadits ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan akhir.


Menjaga Kesempatan yang Allah Berikan

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.

Ada orang yang ingin belajar agama tetapi terhalang keadaan.

Ada yang ingin menghafal Al-Qur'an tetapi terbebani banyak tanggung jawab.

Ada yang ingin menghadiri majelis ilmu tetapi tidak memiliki akses.

Jika Allah telah memberikan kesempatan tersebut kepada kita, maka itu adalah nikmat yang harus disyukuri.

Cara mensyukurinya adalah dengan memanfaatkannya sebaik mungkin.


Tanda-Tanda Himmah yang Tinggi

Berikut beberapa ciri orang yang memiliki himmah aliyah:

1. Mengutamakan Akhirat

Ia menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

2. Menghargai Waktu

Ia sadar bahwa umur adalah modal yang sangat berharga.

3. Haus Akan Ilmu

Ia selalu ingin memperbaiki kualitas dirinya.

4. Konsisten dalam Ibadah

Meski sedikit, amalnya dilakukan secara terus-menerus.

5. Tidak Mudah Tergoda oleh Kesenangan Sesaat

Ia mampu membedakan antara kebutuhan dan gangguan.


Muhasabah Diri

Renungkan pertanyaan berikut:

  • Nikmat apa yang Allah berikan untuk mendekat kepada-Nya?

  • Apakah saya memanfaatkan waktu dengan baik?

  • Berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat?

  • Apakah tujuan hidup saya masih berorientasi akhirat?

Muhasabah yang jujur akan membantu kita memperbaiki arah perjalanan hidup.


Pelajaran Penting dari Hikmah Ketiga

Hikmah ini tidak mengajarkan untuk membenci dunia.

Yang diajarkan adalah:

Jangan sampai dunia mengalahkan kesempatan mendekat kepada Allah.

Jika Allah telah membuka jalan ibadah, ilmu, dan amal saleh, maka jangan berpaling kepada hal yang lebih rendah nilainya.

Karena kesempatan seperti itu belum tentu datang dua kali.


Kesimpulan

Hikmah ketiga dalam Kitab Al-Hikam mengajarkan pentingnya menjaga cita-cita spiritual yang tinggi. Ketika Allah memberikan peluang untuk mendekat kepada-Nya, jangan menukarnya dengan kesibukan dunia yang tidak membawa manfaat akhirat.

Gunakan waktu, ilmu, kesehatan, dan kesempatan yang Allah berikan untuk memperbanyak amal saleh. Sebab orang yang paling beruntung bukanlah yang memiliki dunia terbanyak, melainkan yang paling dekat dengan Allah.


Rekomendas artikel tentang hikmah di Aseprois.com

Posting Komentar