Makna Hikmah Kedua Al-Hikam: Antara Ikhtiar, Sebab, dan Tawakal kepada Allah
Pelajari makna Hikmah Kedua Al-Hikam tentang keseimbangan antara ikhtiar, sebab, dan tawakal kepada Allah dalam kehidupan.
Makna Hikmah Kedua Al-Hikam: Antara Ikhtiar, Sebab, dan Tawakal kepada Allah
Hikmah Kedua Al-Hikam
Arab
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ
Terjemah
"Keinginanmu untuk meninggalkan sebab-sebab duniawi, padahal Allah menempatkanmu di dalamnya, termasuk syahwat yang tersembunyi."
Memahami Hikmah Kedua Al-Hikam
Banyak orang mengira bahwa semakin jauh dari urusan dunia, semakin tinggi pula tingkat spiritualitas seseorang.
Karena anggapan itu, sebagian orang ingin meninggalkan pekerjaan, usaha, atau tanggung jawab keluarga demi fokus beribadah.
Namun melalui hikmah kedua ini, Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa tidak semua orang ditakdirkan Allah untuk menjalani kehidupan yang sama.
Ada yang ditempatkan Allah sebagai pedagang.
Ada yang menjadi guru.
Ada yang menjadi petani.
Ada yang menjadi pemimpin.
Ada yang menjadi ayah atau ibu yang harus bekerja demi keluarganya.
Ketika Allah menempatkan seseorang dalam dunia sebab-akibat, maka menjalani peran tersebut dengan baik justru merupakan bentuk ibadah.
Apa yang Dimaksud dengan "Asbab" (Sebab)?
Dalam bahasa tasawuf, asbab berarti segala sarana yang Allah jadikan sebagai jalan datangnya sesuatu.
Contohnya:
Bekerja untuk mendapatkan rezeki.
Belajar untuk memperoleh ilmu.
Berobat untuk mendapatkan kesembuhan.
Berdagang untuk mendapatkan keuntungan.
Allah menciptakan dunia dengan sistem sebab dan akibat.
Karena itu, meninggalkan sebab tanpa alasan syar'i bukanlah bentuk tawakal yang benar.
Islam Mengajarkan Ikhtiar
Allah berfirman:
"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini menunjukkan bahwa usaha merupakan bagian dari sunnatullah.
Bahkan para nabi pun melakukan ikhtiar.
Nabi Nuh membuat kapal.
Nabi Musa membawa tongkat.
Nabi Muhammad ﷺ berdagang dan menyusun strategi hijrah.
Mereka bertawakal kepada Allah tanpa meninggalkan usaha.
Tawakal Bukan Berarti Pasif
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memahami tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha.
Misalnya:
Tidak mau bekerja dengan alasan rezeki sudah diatur.
Tidak mau belajar karena merasa Allah akan memberi ilmu.
Tidak mau berobat karena merasa Allah yang menyembuhkan.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah."
Hadits ini menjelaskan bahwa usaha dan tawakal harus berjalan bersama.
Syahwat yang Tersembunyi
Mengapa Ibnu Athaillah menyebutnya sebagai "syahwat tersembunyi"?
Karena terkadang keinginan meninggalkan dunia bukan berasal dari kecintaan kepada Allah.
Melainkan karena:
Malas bekerja.
Tidak mau menghadapi tantangan hidup.
Ingin dipandang sebagai orang saleh.
Ingin mendapatkan penghormatan dari masyarakat.
Semua itu adalah bentuk syahwat yang terselubung dalam pakaian ibadah.
Menjadi Hamba Sesuai Tempat yang Allah Tetapkan
Seorang Muslim tidak dituntut menjadi orang lain.
Yang dituntut adalah menjalankan amanah yang Allah berikan kepadanya.
Jika Allah menjadikan seseorang pedagang, maka jadilah pedagang yang jujur.
Jika Allah menjadikannya guru, maka jadilah guru yang amanah.
Jika Allah menjadikannya orang tua, maka didiklah anak-anak dengan baik.
Ketaatan tidak selalu berada di masjid atau pesantren.
Ketaatan juga bisa berada di pasar, kantor, sawah, dan rumah tangga.
Pelajaran untuk Kehidupan Modern
Di era media sosial, sering muncul gambaran bahwa kehidupan spiritual adalah kehidupan yang bebas dari kesibukan dunia.
Padahal kenyataannya, banyak sahabat Nabi yang sukses dalam bisnis sekaligus menjadi ahli ibadah.
Contohnya:
Abdurrahman bin Auf
Utsman bin Affan
Mereka kaya, aktif berdagang, namun tetap dekat dengan Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa bekerja dan mencari nafkah bukan penghalang menuju kesalehan.
Tanda Ikhtiar yang Benar
Ikhtiar yang benar memiliki beberapa ciri:
1. Dilakukan dengan cara halal
Tidak melanggar syariat demi mendapatkan hasil.
2. Tidak bergantung kepada sebab
Hati tetap menyadari bahwa hasil berasal dari Allah.
3. Tidak meninggalkan ibadah
Kesibukan dunia tidak membuat lalai dari kewajiban.
4. Siap menerima hasil
Setelah berusaha maksimal, seseorang menerima keputusan Allah dengan lapang dada.
Muhasabah Diri
Renungkan beberapa pertanyaan berikut:
Apakah saya sudah menjalankan amanah yang Allah berikan?
Apakah saya bekerja karena ibadah atau sekadar mengejar dunia?
Apakah saya terlalu bergantung pada usaha saya?
Apakah saya masih mengingat Allah di tengah kesibukan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Kesimpulan
Hikmah kedua Al-Hikam mengajarkan bahwa setiap orang memiliki posisi yang telah ditetapkan Allah. Jika Allah menempatkan kita dalam dunia sebab-akibat, maka menjalani sebab tersebut dengan benar adalah bagian dari ibadah.
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Sebaliknya, tawakal adalah mengerahkan usaha terbaik sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.
Seorang Muslim yang bekerja, berdagang, belajar, atau mengurus keluarga dengan niat yang benar bisa menjadi hamba yang sangat dekat dengan Allah.
Mungkin kamu bisa juga baca : Makna Hikmah Perrama Al-Hikam

Posting Komentar
Terimakasih