Mengapa Kita Sibuk Mengejar Rezeki Tapi Lalai Beribadah? Renungan Hikmah Keenam Al-Hikam

Daftar Isi

Hikmah Keenam Al-Hikam mengajarkan agar tidak sibuk mengejar rezeki hingga melalaikan ibadah dan tujuan hidup yang sebenarnya.

Mengapa Kita Sibuk Mengejar Rezeki

Mengapa Kita Sibuk Mengejar Rezeki Tapi Lalai Beribadah? Renungan Hikmah Keenam Al-Hikam

Hikmah Keenam Al-Hikam

Arab

اجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ

Terjemah

"Kesungguhanmu dalam mengejar apa yang telah dijamin untukmu, dan kelalaianmu terhadap apa yang diperintahkan kepadamu, merupakan tanda kaburnya mata hati."


Hikmah yang Menampar Kesibukan Zaman Modern

Jika Hikmah Kelima berbicara tentang ketenangan hati, maka Hikmah Keenam berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar:

Prioritas hidup.

Banyak manusia bekerja siang dan malam demi mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah.

Namun pada saat yang sama, mereka justru lalai terhadap perkara yang menjadi tujuan penciptaannya.

Inilah yang disebut Ibnu Athaillah sebagai tanda "tertutupnya mata hati."


Apa yang Sudah Dijamin Allah?

Dalam hikmah ini, yang dimaksud adalah:

Rezeki

Allah berfirman:

"Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya."

(QS. Hud: 6)

Artinya:

  • Makanan

  • Minuman

  • Nafkah

  • Kebutuhan hidup

Semua telah berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.

Bukan berarti kita tidak bekerja.

Tetapi rezeki tidak datang semata karena kepandaian manusia.


Apa yang Dituntut dari Kita?

Yang Allah minta dari manusia adalah:

  • Shalat

  • Puasa

  • Zakat

  • Menuntut ilmu

  • Berbakti kepada orang tua

  • Berdakwah sesuai kemampuan

  • Berakhlak mulia

Ironisnya, banyak orang sangat disiplin mengejar dunia tetapi sangat mudah menunda ibadah.


Realita yang Sering Terjadi

Bangun jam 4 pagi demi pekerjaan?

Bisa.

Lembur sampai malam demi target?

Bisa.

Perjalanan berjam-jam demi bisnis?

Bisa.

Tetapi ketika adzan berkumandang:

"Nanti dulu."

Ketika waktu membaca Al-Qur'an:

"Besok saja."

Ketika ada kajian:

"Lagi sibuk."

Padahal kesibukan itu dilakukan untuk mengejar sesuatu yang sudah Allah jamin.


Mengapa Mata Hati Bisa Kabur?

Ibnu Athaillah menggunakan istilah:

انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ

yang berarti:

Kaburnya mata hati.

Bukan mata fisik yang buta.

Tetapi hati yang tidak lagi mampu melihat prioritas dengan benar.

Akibatnya:

  • Dunia terasa sangat besar.

  • Akhirat terasa jauh.

  • Rezeki terasa segalanya.

  • Ibadah dianggap nomor dua.


Rasulullah Mengajarkan Keseimbangan

Rasulullah ﷺ adalah seorang pedagang.

Beliau bekerja.

Beliau berdakwah.

Beliau memimpin negara.

Namun tidak ada satu pun kesibukan yang membuat beliau lalai dari Allah.

Karena itu Islam tidak melarang mencari rezeki.

Yang dilarang adalah menjadikan rezeki sebagai tujuan hidup.


Rezeki Bukan Tujuan, Tapi Sarana

Banyak orang berpikir:

"Kalau saya kaya, saya akan bahagia."

Padahal banyak orang kaya yang tetap gelisah.

Sebaliknya ada orang yang hidup sederhana tetapi sangat tenang.

Mengapa?

Karena ketenangan tidak berasal dari jumlah harta.

Ketenangan berasal dari kedekatan kepada Allah.


Bahaya Ketika Dunia Menjadi Prioritas

Ketika dunia menjadi tujuan utama:

Ibadah Menjadi Beban

Shalat dianggap mengganggu pekerjaan.

Hati Mudah Gelisah

Takut kehilangan harta.

Sulit Bersyukur

Selalu merasa kurang.

Mudah Iri

Melihat kesuksesan orang lain sebagai ancaman.


Ciri Orang yang Prioritasnya Benar

Mendahulukan Kewajiban

Shalat tepat waktu meski sibuk.

Menjadikan Kerja sebagai Ibadah

Bukan sekadar mencari uang.

Tidak Panik terhadap Rezeki

Karena yakin Allah yang mengaturnya.

Menjaga Hubungan dengan Allah

Meski target dunia terus bertambah.


Muhasabah Diri

Coba tanyakan kepada diri sendiri:

  • Berapa jam saya bekerja setiap hari?

  • Berapa menit saya membaca Al-Qur'an?

  • Seberapa besar perhatian saya terhadap akhirat dibanding dunia?

  • Apakah saya mengejar rezeki hingga melupakan tujuan hidup?

Jawaban jujur atas pertanyaan ini bisa menjadi cermin kondisi hati kita.


Pelajaran untuk Kehidupan Modern

Di era digital, ukuran kesuksesan sering diukur dengan:

  • Gaji

  • Jabatan

  • Kendaraan

  • Followers

  • Aset

Padahal di sisi Allah, ukuran kemuliaan adalah ketakwaan.

Allah tidak bertanya:

"Berapa banyak hartamu?"

Tetapi:

"Apa yang kamu lakukan dengan umur yang telah diberikan?"


Kesimpulan

Hikmah Keenam Al-Hikam mengingatkan bahwa banyak manusia terbalik dalam menetapkan prioritas.

Mereka sangat serius mengejar rezeki yang sudah dijamin Allah, namun lalai terhadap ibadah yang menjadi tujuan penciptaannya.

Seorang Muslim yang bijak akan tetap bekerja dan berusaha, tetapi tidak membiarkan dunia mengalahkan akhirat.

Karena rezeki adalah sarana, sedangkan ridha Allah adalah tujuan.


Rekomendasi artikel untuk di telaah di Aseprois.com

Posting Komentar