Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kemana Jalan Ke Surga?

Kemana Jalan Ke Surga?. Mendengar pertanyaan ini, apa yang ada dibenak Anda?, apakah ini tersa seperti humor?, ataukah ini merupakan pertanyaan yang sangat serius untuk dijawab?, atau sesuatu yang terasa seperti mengada-ada?.

Sahabat, apapun yang Anda rasakan dengan kalimat pertanyaan di atas, ternyata inilah sebenarnya yang sedang dicari oleh banyak orang yang memiliki keyakinan akan kehidupan setelah kematian.

Disadari atau tidak, semua orang dimuka bumi ini, memiliki harapan yang sama, yakni; bisa mendapatkan kebahagiaan abadi di surga.

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengulas apa yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Amin dalam kitabnya tanwirul Qulub. Yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa kita, nama kitab itu berarti; Penerang Hati.

* Syekh Muhammad Amin merupakan ulama dari kalangan Ahlussunnah Waljama'ah pada awal abad ke-19 M

Apa yang ditulis beliau itu sangat relevan dijadikan sebagai jawaban atas pertanyaan di atas. Beliau menuliskan;

المريد لحرث الآخرة السالك لطريقها لا يخلو عن ستة أحوال: إما عابد وإما عالم وإما متعلم و إما وال وإما محترف و إما موحد مستغرق بالواحد الصمد

Orang yang mencari tanaman akhirat, "yang mengikuti jalannya", tidak lepas dari enam keadaan: apakah dia seorang ahli ibadah, seorang 'alim, orang yang mencari ilmu (pelajar), seorang pejabat, seorang profesional, atau seorang yang menenggelamkan diri dalam ke-Esaan Yang Maha Abadi.

Mari kita pahami satu persatu! Semoga bisa menambah wawasan bagi kita untuk mengetahui apakah kita sudah berada disalah satu jalur itu?.

1. Ahli Ibadah

Ahli ibadah adalah seseorang yang dalam kesehariannya menyibukan diri dalam ritula ibadah, baik yang wajib ataupun yang sunnah.

2. 'Alim (yang mengajarkan pengetahuan)

Orang 'Alim adalah seseorang yang menghabiskan waktu dalam kesehariannya untuk mendalami ilmu dan mengajarkan ilmunya kepada orang banyak. Entah ia seorang penceramah, pengajar di majlis taklim, madrasah atau seseorang yang selamanya mengajar para santri dipondok pesantren.

3. Muta'alim (Pelajar)

Muta'alim adalah seseorang yang menghabiskan waktunya untuk menambah serta memperdalam ilmu pengetahuan. Entah dia seorang santri, pelajar formal, mahasiswa atau yang selalu menghadiri majelis-majelis taklim untuk menambah pengetahuannya tentang agama.

4. Waali (Pejabat)

Waali "وال"disini bukan wali "ولي" adalah mereka yang berperan dalam politik, baik sebagai pejabat pemerintahan, pengurus partai, pengurus organisasi kemasyarakatn dan sebagainya. 

Dimana mereka menghabiskan waktunya untuk membuat, mengatur dan mengontrol kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk kemaslahatan hidup umat manusia.

5. Muhtarif (Pengusaha)

Muhtarif adalah mereka yang menghabiskan waktu untuk membangun ekonominya. Entah menjadi seorang profesional dalam interpreneur, pekerja, petani, buruh dan lain sebagainya.

6. Muwahidun Mustaghriqun Bil Wahidish Shomad 

Yang ke enam ini adalah orang yang menghabiskan waktu dalam keseharaiannya untuk tenggelam dalam penghambaannya kepada Allah SWT. Dimana dia tidak lagi tergantung pada hal-hal yang berkaitan dengan duniawi.

Enam hal diatas menggambarkan bahwa; banyak jalan dan cara untuk menempuh kebahagiaan akhirat. Setiap orang boleh memilih caranya sendiri sesuai dengan kapasitas dan potensi yang dimilikinya.

Seorang 'alim bisa terus fokus dalam ke'alimannya dengan cara menyebarkan pengetahuan yang akan memberikan manfaat bagi umat.

Para pelajarpun memiliki kesempatan yang sama dengan para 'Alimiin, sama-sama sedang menanam kebaikan untuk keselamatannya diakhirat.

Para pejabat, pengusaha, buruh dan lain sebagainya itu sama-sama sedang berada dijalan yang tepat untuk mengoleksi pahala demi keselamatannya diakhirat.

Namun, yang perlu digaris bawahi disini adalah, semuanya wajib didasari dengan niatan tulus dan ikhlas karena Allah semata dalam menjalankan prosesnya.

Agar semuanya bisa dilakukan dalam keadaan ikhlas karena Allah, maka dibutuhkan keterampilan dalam mengelola emosi yang berpusat pada hati dan pikiran. Terkait ini, insyaAllah akan kita bahas pada postingan berikutnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menyemangati para pembaca untuk menjalankan kegiatan dalam kesehariannya sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapinya.

Asep Rois
Asep Rois Memandang masa depan itu harus melibatkan kebaikan dalam prasangka. Kemudian melangkah dalam jalur proses dengan penuh keyakinan pada kemampuan diri sendiri.

Posting Komentar untuk "Kemana Jalan Ke Surga?"