Mungkin Bukan Rezekimu yang Kurang, Tapi Syukurmu yang Kurang
Pentingnya bersyukur dalam islam. Merasa hidup kurang terus? Mungkin bukan rezekimu yang kurang, tetapi rasa syukurmu yang belum tumbuh. Simak penjelasannya menurut Islam.
Mungkin Bukan Rezekimu yang Kurang, Tapi Syukurmu yang Kurang
Pernahkah kamu merasa hidupmu selalu kurang?
Gaji terasa kurang.
Rumah terasa kurang besar.
Kendaraan terasa kurang bagus.
Tabungan terasa kurang banyak.
Berapa banyak umur kita yang sudah terbuang sia-sia?
Sementara ketika melihat kehidupan orang lain, seolah-olah mereka memiliki segalanya.
Perasaan seperti ini sering muncul tanpa disadari. Padahal bisa jadi masalah utamanya bukan karena Allah kurang memberikan rezeki, melainkan karena kita kurang menyadari nikmat yang sudah ada.
Dalam Islam, kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya rezeki yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan hati untuk bersyukur.
Karena orang yang tidak pandai bersyukur akan selalu merasa kekurangan, meskipun hidupnya penuh dengan nikmat.
Rezeki Tidak Selalu Berupa Uang
Ketika mendengar kata rezeki, kebanyakan orang langsung memikirkan uang.
Padahal rezeki jauh lebih luas daripada itu.
Kesehatan adalah rezeki.
Keluarga yang harmonis adalah rezeki.
Iman adalah rezeki.
Waktu luang adalah rezeki.
Teman yang baik adalah rezeki.
Bahkan kemampuan untuk bernapas dengan normal adalah rezeki yang tidak ternilai.
Sayangnya, manusia sering hanya fokus pada nikmat yang belum dimiliki dan melupakan nikmat yang sudah Allah berikan setiap hari.
Kita Terlalu Sering Melihat ke Atas
Salah satu penyebab sulit bersyukur adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang yang lebih berada.
Media sosial memperparah keadaan ini.
Kita melihat:
Orang lain membeli mobil baru.
Orang lain liburan ke luar negeri.
Orang lain memiliki rumah mewah.
Orang lain sukses dalam bisnis.
Tanpa sadar kita mulai merasa hidup kita kurang beruntung.
Padahal Rasulullah SAW telah memberikan solusi:
"Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Nasihat ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita tinggi.
Namun dalam urusan syukur, melihat ke bawah akan membuat kita lebih menghargai nikmat yang telah ada.
Nikmat yang Terlalu Sering Kita Lupakan
Coba renungkan sejenak.
Berapa harga yang harus dibayar jika:
Mata kita tidak bisa melihat?
Kaki kita tidak bisa berjalan?
Jantung kita berhenti berdetak?
Udara harus dibeli seperti air mineral?
Mungkin seluruh harta yang kita miliki tidak akan cukup untuk menggantinya.
Namun karena nikmat itu diberikan setiap hari, kita menjadi terbiasa dan lupa mensyukurinya.
Allah SWT berfirman:
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."
(QS. An-Nahl: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa jumlah nikmat Allah jauh lebih banyak daripada yang kita sadari.
Mengapa Orang Kaya Pun Bisa Tidak Bahagia?
Banyak orang berpikir:
"Kalau aku punya uang sebanyak itu, pasti hidupku tenang."
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Tidak sedikit orang yang memiliki kekayaan melimpah tetapi tetap merasa gelisah.
Mengapa?
Karena ketenangan tidak hanya berasal dari banyaknya harta.
Ada orang yang memiliki sedikit tetapi bersyukur sehingga hidupnya terasa cukup.
Ada pula yang memiliki banyak tetapi terus merasa kurang sehingga hidupnya terasa sempit.
Kuncinya bukan pada jumlah rezeki, melainkan pada kondisi hati.
Syukur Adalah Kunci Bertambahnya Nikmat
Allah SWT memberikan janji yang luar biasa:
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."
(QS. Ibrahim: 7)
Perhatikan.
Allah tidak mengatakan:
"Jika kamu kaya, Aku akan menambah nikmatmu."
Tetapi Allah mengatakan:
"Jika kamu bersyukur."
Artinya syukur adalah salah satu sebab datangnya keberkahan dan tambahan nikmat dari Allah.
Tambahan itu bisa berupa:
Kesehatan yang lebih baik.
Hati yang lebih tenang.
Rezeki yang lebih luas.
Keluarga yang lebih harmonis.
Kemudahan dalam berbagai urusan.
Tanda-Tanda Kurangnya Rasa Syukur
Muhasabah diri penting agar kita mengetahui kondisi hati kita.
Beberapa tanda kurangnya syukur antara lain:
1. Lebih Sering Mengeluh daripada Bersyukur
Setiap hari yang dibahas hanyalah kekurangan dan masalah.
2. Sulit Merasa Puas
Apa pun yang dimiliki selalu terasa kurang.
3. Mudah Iri dengan Nikmat Orang Lain
Kebahagiaan orang lain justru membuat hati tidak nyaman.
4. Jarang Mengingat Nikmat Allah
Fokus hanya pada apa yang belum dimiliki.
Cara Melatih Hati Agar Lebih Bersyukur
1. Hitung Nikmat Setiap Hari
Sebelum tidur, tuliskan minimal tiga nikmat yang Allah berikan hari itu.
Kebiasaan sederhana ini dapat mengubah cara pandang terhadap kehidupan.
2. Perbanyak Mengucapkan Alhamdulillah
Bukan sekadar di lisan, tetapi juga di hati.
Biasakan mengucapkannya dalam berbagai keadaan.
3. Gunakan Nikmat untuk Kebaikan
Syukur bukan hanya ucapan.
Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai yang Allah ridai.
4. Ingat Orang yang Lebih Sulit
Lihatlah mereka yang sedang berjuang dengan penyakit, kemiskinan, atau musibah.
Hal ini dapat membantu hati lebih menghargai nikmat yang dimiliki.
Muhasabah: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-Benar Bersyukur?
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Kapan terakhir kali aku bersyukur atas kesehatan?
Kapan terakhir kali aku bersyukur atas keluarga?
Kapan terakhir kali aku bersyukur masih bisa sujud kepada Allah?
Kapan terakhir kali aku bersyukur atas nikmat iman?
Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk meminta nikmat baru sampai lupa menghargai nikmat yang sudah ada.
Penutup
Banyak orang mengira kebahagiaan datang setelah semua keinginan terpenuhi.
Padahal kebahagiaan sering kali lahir ketika kita mampu menghargai apa yang sudah Allah berikan hari ini.
Mungkin benar rezeki kita belum sebanyak yang diharapkan.
Namun jangan sampai kita lupa bahwa masih banyak nikmat yang sudah Allah titipkan kepada kita.
Karena bisa jadi, yang membuat hidup terasa kurang bukanlah sedikitnya rezeki.
Melainkan sedikitnya rasa syukur.
Maka mulai hari ini, sebelum meminta lebih banyak kepada Allah, cobalah menghitung kembali berapa banyak nikmat yang sudah Dia berikan.
Siapa tahu, ternyata kita jauh lebih kaya daripada yang selama ini kita kira.

Posting Komentar
Terimakasih