Jika Hari Ini Allah Mencabut Nikmatmu, Apa yang Masih Tersisa?

Daftar Isi

Kita sering baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah kehilangannya. Renungkan nikmat Allah yang sering dilupakan dan pentingnya bersyukur.

Jika Hari Ini Allah Mencabut Nikmatmu

Jika Hari Ini Allah Mencabut Nikmatmu, Apa yang Masih Tersisa?

Cobalah bayangkan satu hal.

Bagaimana jika besok pagi kamu bangun dan tidak bisa melihat?

Atau tidak bisa berjalan?

Atau kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan?

Atau kehilangan seseorang yang sangat kamu cintai?

Mungkin baru saat itulah kita menyadari betapa berharganya nikmat yang selama ini dianggap biasa.

Sayangnya, manusia sering kali baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya.

Saat sehat, lupa bersyukur.

Saat sakit, baru menyadari betapa berharganya kesehatan.

Saat bersama keluarga, sering mengeluh.

Saat kehilangan, baru merindukan kebersamaan.

Karena itulah muhasabah tentang nikmat sangat penting agar hati tidak menjadi lalai.


Kita Hidup di Tengah Lautan Nikmat

Allah SWT berfirman:

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."

(QS. Ibrahim: 34)

Ayat ini menunjukkan bahwa nikmat Allah bukan hanya banyak.

Tetapi begitu banyak hingga tidak mungkin dihitung.

Masalahnya bukan karena nikmat itu sedikit.

Masalahnya karena kita terlalu terbiasa dengannya.


Nikmat yang Paling Sering Dilupakan

1. Nikmat Iman

Ini adalah nikmat terbesar.

Karena harta hanya bermanfaat di dunia.

Sedangkan iman menentukan keselamatan dunia dan akhirat.

Banyak orang memiliki segalanya tetapi tidak memiliki petunjuk.

Sementara seorang Muslim diberi kesempatan mengenal Allah, mengenal Al-Qur'an, dan mengenal jalan menuju surga.

Namun sering kali nikmat ini justru dianggap biasa.


2. Nikmat Kesehatan

Ketika tubuh sehat, kita bebas berjalan ke mana saja.

Bekerja.

Beribadah.

Berkumpul bersama keluarga.

Namun saat sakit datang, aktivitas sederhana pun terasa sangat berat.

Rasulullah SAW bersabda:

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang."

(HR. Bukhari)


3. Nikmat Waktu

Setiap hari Allah memberi kita 24 jam.

Tidak kurang.

Tidak lebih.

Tetapi berapa banyak yang benar-benar dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat?

Banyak orang menyadari nilai waktu ketika usia mulai menua.

Ketika kesempatan sudah berlalu.

Ketika tenaga mulai berkurang.

Padahal waktu adalah aset yang tidak bisa dibeli kembali.


4. Nikmat Keluarga

Tidak semua orang memiliki keluarga yang lengkap.

Tidak semua orang masih memiliki ayah dan ibu.

Tidak semua orang memiliki rumah yang bisa disebut tempat pulang.

Jika hari ini Allah masih memberimu keluarga yang baik, itu adalah nikmat yang sangat besar.


5. Nikmat Keamanan

Coba bayangkan hidup di daerah konflik.

Tidak ada rasa aman.

Tidak ada ketenangan.

Tidak tahu apakah besok masih bisa hidup.

Saat kita bisa tidur dengan tenang setiap malam, sebenarnya itu adalah nikmat yang luar biasa.

Namun karena berlangsung setiap hari, kita sering melupakannya.


Mengapa Kita Sulit Bersyukur?

Salah satu alasannya adalah karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki.

Rumah yang belum terbeli.

Mobil yang belum dimiliki.

Bisnis yang belum berkembang.

Target yang belum tercapai.

Akibatnya, nikmat yang sudah ada menjadi tidak terlihat.

Padahal kebahagiaan sering kali bukan tentang memiliki lebih banyak.

Melainkan menyadari betapa banyak yang sudah dimiliki.


Allah Bisa Mengambil Kembali Nikmat Kapan Saja

Semua yang kita miliki saat ini hanyalah titipan.

Kesehatan adalah titipan.

Keluarga adalah titipan.

Harta adalah titipan.

Jabatan adalah titipan.

Dan setiap titipan bisa diambil kembali kapan saja oleh pemiliknya.

Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin tidak sombong ketika mendapatkan nikmat dan tidak terlalu hancur ketika kehilangan.

Karena ia tahu semuanya berasal dari Allah.


Orang yang Bersyukur Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

Dua orang bisa memiliki kondisi yang sama.

Yang satu terus mengeluh.

Yang satu terus bersyukur.

Apa bedanya?

Cara pandang.

Orang yang selalu fokus pada kekurangan akan merasa miskin meskipun memiliki banyak.

Sebaliknya, orang yang pandai bersyukur akan merasa cukup meskipun hidup sederhana.

Karena kekayaan sejati berada di hati.


Cara Melatih Rasa Syukur

1. Mulai Hari dengan Alhamdulillah

Biasakan mengawali hari dengan mengingat nikmat Allah.

2. Tuliskan Tiga Nikmat Setiap Hari

Kebiasaan sederhana ini dapat mengubah pola pikir secara perlahan.

3. Lihat Orang yang Kurang Beruntung

Dalam urusan dunia, melihat ke bawah membantu kita lebih menghargai nikmat yang ada.

4. Gunakan Nikmat untuk Kebaikan

Syukur tidak cukup dengan ucapan.

Nikmat harus digunakan dalam hal yang diridhai Allah.


Muhasabah untuk Diri Kita

Cobalah renungkan.

Jika hari ini Allah mengambil:

  • Penglihatanmu.

  • Pendengaranmu.

  • Kesehatanmu.

  • Keluargamu.

  • Waktumu.

Apa yang masih tersisa?

Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti.

Tetapi untuk membantu kita menyadari bahwa nikmat yang kita miliki saat ini jauh lebih besar daripada yang sering kita sadari.


Penutup

Banyak manusia menghabiskan hidup mengejar nikmat yang belum dimiliki.

Namun lupa menikmati nikmat yang sudah ada.

Padahal bisa jadi kebahagiaan yang dicari selama ini sebenarnya sudah berada di sekitar kita.

Masih bisa bernapas.

Masih bisa sujud.

Masih bisa membaca Al-Qur'an.

Masih bisa memeluk keluarga.

Masih bisa melihat matahari terbit setiap pagi.

Bukankah itu semua adalah nikmat yang luar biasa?

Maka sebelum Allah mengambil kembali titipan-Nya, mari belajar menghargai setiap nikmat yang masih ada.

Karena sering kali, nilai sebuah nikmat baru benar-benar terasa setelah nikmat itu hilang.

Rekomendasi Artikel Muhasabah lainnya di www.aseprois.com:

Posting Komentar