Jangan Takut Kehilangan Dunia, Takutlah Kehilangan Allah
Jangan takut kehilangan dunia. Kehilangan dunia memang menyakitkan, tetapi kehilangan kedekatan dengan Allah jauh lebih berbahaya. Simak renungan muhasabah yang menyentuh hati.
Jangan Takut Kehilangan Dunia, Takutlah Kehilangan Allah
Manusia pada dasarnya takut kehilangan.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan uang.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan pasangan.
Takut kehilangan orang yang dicintai.
Bahkan sebagian besar kegelisahan yang kita rasakan setiap hari sebenarnya berakar dari rasa takut kehilangan.
Karena itulah kita bekerja keras.
Karena itulah kita khawatir.
Karena itulah kita sering sulit tidur.
Namun pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri:
"Mengapa aku begitu takut kehilangan dunia, tetapi jarang takut kehilangan Allah?"
Padahal kehilangan dunia hanya berdampak sementara.
Sedangkan kehilangan kedekatan dengan Allah dapat membawa kerugian yang jauh lebih besar, bahkan hingga akhirat.
Dunia Memang Akan Pergi
Salah satu kenyataan yang harus diterima setiap manusia adalah bahwa dunia tidak ada yang abadi.
Rumah bisa rusak.
Harta bisa habis.
Bisnis bisa bangkrut.
Jabatan bisa dicabut.
Kecantikan bisa memudar.
Kesehatan bisa hilang.
Bahkan orang yang paling kita cintai suatu hari akan berpisah dengan kita.
Allah SWT berfirman:
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal."
(QS. An-Nahl: 96)
Ayat ini mengingatkan bahwa semua yang ada di dunia memiliki batas waktu.
Hanya Allah yang kekal.
Mengapa Kehilangan Dunia Sangat Menyakitkan?
Karena hati manusia sering terlalu bergantung kepada dunia.
Kita tidak hanya memiliki dunia.
Kita mencintainya.
Bahkan terkadang kita menjadikannya tujuan utama kehidupan.
Akibatnya ketika sesuatu hilang, hati ikut hancur.
Padahal dunia memang tidak pernah dijanjikan untuk tinggal selamanya.
Ia hanya titipan.
Dan setiap titipan pasti akan kembali kepada pemiliknya.
Ketika Allah Menjadi Sandaran Utama
Bayangkan ada dua orang yang kehilangan pekerjaan.
Orang pertama menggantungkan seluruh hidupnya pada pekerjaannya.
Orang kedua menggantungkan harapannya kepada Allah.
Siapa yang lebih kuat menghadapi ujian?
Tentu orang kedua.
Karena meskipun pekerjaannya hilang, sandaran hidupnya masih ada.
Yaitu Allah.
Inilah mengapa orang yang dekat dengan Allah sering terlihat lebih tenang ketika menghadapi musibah.
Bukan karena mereka tidak sedih.
Tetapi karena mereka tahu kepada siapa harus bersandar.
Kehilangan Allah Lebih Berbahaya
Bagaimana bentuk kehilangan Allah?
Bukan berarti Allah meninggalkan hamba-Nya.
Tetapi ketika hati mulai jauh dari-Nya.
Tandanya bisa berupa:
Shalat mulai terasa berat.
Al-Qur'an jarang dibaca.
Dzikir mulai ditinggalkan.
Dosa terasa biasa.
Maksiat tidak lagi membuat hati gelisah.
Nasihat agama tidak lagi menyentuh hati.
Inilah kehilangan yang sesungguhnya.
Karena ketika hati jauh dari Allah, dunia sebesar apa pun tidak akan mampu memberikan ketenangan.
Para Sahabat Lebih Takut Kehilangan Iman
Para sahabat Rasulullah SAW memiliki ketakutan yang berbeda dengan kebanyakan manusia hari ini.
Mereka lebih takut kehilangan iman daripada kehilangan harta.
Lebih takut kehilangan ridha Allah daripada kehilangan dunia.
Karena mereka memahami bahwa dunia hanya sementara.
Sedangkan hubungan dengan Allah menentukan nasib mereka untuk selamanya.
Dunia Tidak Bisa Menyelamatkan Kita
Saat ajal datang:
Harta tidak bisa menolong.
Jabatan tidak bisa menolong.
Popularitas tidak bisa menolong.
Pengikut media sosial tidak bisa menolong.
Yang akan menemani hanyalah amal dan rahmat Allah.
Karena itu orang yang cerdas bukanlah yang hanya sibuk mengumpulkan dunia.
Tetapi yang sibuk menjaga hubungannya dengan Allah.
Tanda Kita Terlalu Mencintai Dunia
Mari bermuhasabah.
Mungkin ada beberapa tanda berikut dalam diri kita:
1. Lebih Sedih Kehilangan Uang daripada Kehilangan Waktu Shalat
Saat kehilangan uang, hati gelisah berhari-hari.
Namun ketika shalat terlambat atau bahkan terlewat, hati biasa saja.
2. Lebih Semangat Mengejar Dunia daripada Akhirat
Pagi hingga malam penuh semangat untuk urusan dunia.
Namun merasa berat ketika membaca Al-Qur'an atau menghadiri majelis ilmu.
3. Takut Miskin tetapi Tidak Takut Bermaksiat
Padahal dosa jauh lebih berbahaya daripada kekurangan harta.
4. Selalu Memikirkan Dunia
Tetapi jarang memikirkan bekal akhirat.
Cara Agar Hati Tidak Terikat Berlebihan pada Dunia
Perbanyak Mengingat Kematian
Kematian mengingatkan bahwa semua yang ada di dunia akan ditinggalkan.
Perbanyak Membaca Al-Qur'an
Al-Qur'an membantu meluruskan kembali prioritas hidup.
Bersyukur dan Qana'ah
Belajar merasa cukup atas apa yang Allah berikan.
Perkuat Hubungan dengan Allah
Karena semakin dekat kepada Allah, semakin kecil ketergantungan kepada dunia.
Muhasabah untuk Diri Kita
Coba renungkan pertanyaan berikut:
Apa yang paling sering membuatku takut?
Apa yang paling sering membuatku gelisah?
Kehilangan apa yang paling aku khawatirkan?
Jawaban dari pertanyaan itu sering kali menunjukkan apa yang paling dicintai oleh hati kita.
Jika seluruh ketakutan hanya berkisar pada dunia, mungkin sudah saatnya kita memperbaiki orientasi hidup.
Penutup
Tidak ada yang salah dengan memiliki harta.
Tidak ada yang salah dengan mengejar kesuksesan.
Tidak ada yang salah dengan mencintai keluarga.
Namun jangan sampai semua itu membuat kita lupa kepada Allah.
Karena dunia pasti akan pergi.
Sedangkan Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang mendekat kepada-Nya.
Maka jangan takut jika suatu hari kehilangan sebagian dunia.
Takutlah jika suatu hari hati kehilangan rasa cinta kepada Allah.
Takutlah jika shalat tidak lagi menggetarkan jiwa.
Takutlah jika Al-Qur'an tidak lagi menyentuh hati.
Sebab kehilangan dunia mungkin hanya membuat kita sedih sementara.
Tetapi kehilangan Allah bisa membuat kita kehilangan segalanya.

Posting Komentar
Terimakasih