Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML Atas

Penjelasan Sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi

Pada postingan kali ini kami akan menyajiakan Penjelasan Sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi yang juga merupakan bagian terpenting dari sifatullah untuk memperkuat keimanan terhadap Allah SWT. Sipat ini merupakan sipat yang wajib ada pada Allah swt, karena keagungan tunggal tidak akan ada pembanding yang menyamainya.

Penjelasan Sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi

Mukholafatu lil Hawaditsi bila diartikan secara harfiyyah "berbeda dengan yang baru" artinya bahwa Allah Ta’ala itu tidak bisa disamakan dengan makhluk ciptaanNya bagai manapun caranya. Logikanya: Apabila Allah dapat disamakan dengan makhluk berarti Dia bagian dari yang baru (ada yang menciptakan) seperti makhluk lainnya. Kalau Allah makhluk maka tidak bisa lagi disebut sebagai tuhan. Allah menegaskan dalam firmanNya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِير

"Tidak ada sesuatupun yang serupa atau sama dengan Dia, Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat".

Perbedaan utama antara Allah dengan MakhlukNya

Secara sederhana bahwa Tuhan itu yang menciptakan makhluknya dan makhluk adalah yang diciptakan tuhan sesuai dengan kehendaknya tanpa ada campur tangan yang lain. Dari ungkapan tersebut sudah sangat jelas perbedaannya. Namun untuk lebih menguatkan pemahaman Ada tiga hal untuk memahami perbedaan pokok antara Allah dan MakhlukNya, yaitu:

  1. Dzat
  2. Sifat
  3. Af’al (Perbuatan)


Secara harfiyyah Dzat berarti rupa atau bentuk. Dalam hal ini Allah tidak bisa dikatakan bentuknya seperti ini dan itu karena tidak sama dengan makhluk yang dicipatakanNya. Mengenai dzat Allah makhluk manapun tidak bisa memikirkan bahkan hanya membayangkanpun tidak bisa. Karena segala sesuatu dari bentuk dan rupa yang dibayangkan, dipikirkan dan dihayalkan oleh makhluk adalah bagian mengikat makhluk itu sendiri dan termasuk makhluk.

* tidak usah memaksakan diri untuk membayangkan dzat Allah swt, karena itu hanya akan melemahkan keimanan!

Sifat yang dilekatkan kepada Allah berbeda dengan sifat yang dilekatkan kepada makhluk. Letak perbedaannya pada ada dan tidak adanya perantara. Ada perantara berarti sipat makhluk, tidak ada perantara itulah sipat Allah. Sipat makhluk pasti ada perantaranya tetapi sfat-sifat Allah itu tanpa perantara.

Salah satu contoh sederhananya; sipat wujud = ada. Sipat Ada bagi Allah tidak terikat dengan perantara apapun. Berbeda dengan keberadaan makhluk adanya sangat terikat dengan perantara. adanya manusia atau binatang perantara keberadaannya adalah ibu bapaknya, tumbuh-tumbuhan adalah biji-bijian yang ditanam dengan sengaja atau tidak dan lain sebagainya.

Af’al berarti perbuatan Allah. Dalam Af'alNya ini berbeda dengan perbuatan makhlukNya. Letak perbedaannya adalah apabila Allah menghendaki sesuatu cukup dengan firmanNya (Kun) artinya Jadilah, dan apa saja yang di kehendakiNya terjadi. Sangat berbeda dengan makhlukNya apabila mengerjakan sesuatu akan terikat dengan usaha, menggunakan peralatan, bahan dan berbagai sarana penunjangnya. Selain itu makhluh berbuat sesuatu karena terikat dengan kebutuhannya, seperti membuat kursi karena kebutuhan untuk duduk nyaman dan lain-lain.

Karena kita adalah makhluk, maka berbuatlah sebagai makhluk yang syarat dengan kebutuhan untuk melakoni hidup didunia. Ingin sesuatu? lakukanlah sesuatu dengan menjalankan proses yang akan mewujudkan sesuatu yang diinginkan itu.

Bagaimana cara menjaga keyakinan terhadap sifat Al-Mukhalafatu lil hawaditsi?

Pertanyaan diatas mungkin juga pernah singgah dibenak sahabat muslim. Berikut ini insyaAllah bisa menjadi salah satu jawabannya. Namun, untuk jawaban agar mendapatkan berkah, sebaiknya tanyakan langsung kepada guru-guru atau ust. yang sahabat kenal dengan jelas. Supaya bisa melakukan tabayun serta mengambil hikmah yang sangat bermanfaat untuk bekal kehidupan kita selama didunia. Selain itu agar terhindar dari pemahaman yang keliru yang akhirnya menyesatkan pikir kita dari keimanan yang seharusnya.

Dalam kitabnya Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil A’qidah Al-Islamiyyah, Syekh Thahir Al-Jazairi  menuliskan bahwa cara meyakini sifat Al-Mukhalafatu lil hawaditsi yang wajib bagi Allah swt itu adalah sebagai berikut!

اَنْ نَعْتَقِدَ أَنَّ اللهَ لَايُشَابِهُهُ شَيْئٌ. لاَ فِيْ ذَاتِهِ وَلاَ فِيْ صِفَاتِهِ وَلاَ فِيْ اَفْعَالِهِ
Kita meyakini bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah, tidak dalam dzatNya, sifat-sifatNya dan tidak pula dalam perbuatan-perbuatanNya.

Kesimpulan dari Penjelasan Sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi

Dari penjelasan diatas maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwasannya Allah swt. itu wajib memiliki sifat Al-Mukhalafatu lil hawaditsi atau berbeda dengan segala sesuatu yang baru darai makhluk yang diciptakanNya. Tidak ada yang bisa menyerupai atau menyamai Allah swt. baik dari segi dzatNya, sifat-sifatNya, maupun pekerjaan-pekerjaan Allah swt.

Untuk menegaskan penjelasan diatas mari renungi surah Al-Ikhlas berikut ini!

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
Allah tempat meminta segala sesuatu.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

Rangkaian ayat dalam surat AL-IKHLASH tersebut sangat jelas menegaskan bahwa tidak ada satu perkara pun yang bisa menyerupai Allah. Dia tidak membutuhkan sesuatu apapun dari selainNya, melainkan Dia tempat semua makhluk menggantungkan kebutuhan dan harapannya. Inilah landasan paling mendasar mengapa Allah wajib memiliki sifat AL-MUKHOLAFATU LIL HAWADITSI. Wallahu a'lam bish showab.

Asep Rois
Asep Rois Memandang masa depan itu harus melibatkan kebaikan dalam prasangka. Kemudian melangkah dalam jalur proses dengan penuh keyakinan pada kemampuan diri sendiri.

Posting Komentar untuk "Penjelasan Sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi"

Silahkan Berlangganan Via Email