Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML Atas

Penjelasan Makna Hijrah Dan Aplikasinya Di Era Digital

Penjelasan Makna Hijrah dan Aplikasinya | Akhir-akhir ini penomena hijrah seakan menjadi tren baru dalam gaya kehidupan. Dari perkotaan hingga pedesaan dan pelososk-pelosok gaung hijrah ini sangat kentara.

Sejarah hijrah sangat erat kaitannya dengan kisah perjalanan Rosulullah saw dalam menyebarkan Islam ditanah Arab, bahkan hijrah ini pula sangat erat dengan perjalanan hidup Nabi Musa As ketika harus menghindari kedzaliman fir'aun.

Penjelasan Makna Hijrah Dan Aplikasinya Di Era Digital

Kemudian apa maksud dan tujuan dari makna hijrah untuk era digital seperti sekarang ini?, Apakah ada relevansinya dengan kehidupan masa kini?...

Hijrah merupkan perpindahan dari satu wilayak ke wilayah yang lain, ini seperti hijrahnya Rosulullah dan para sahabatnya dari kota Mekah ke kota Madinah.

Sering juga para ulama memberikan gambaran makna hijrah ini sebagai perubahan karakter atau akhlak, dari yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Oleh karena ini, maka hijrah tidak akan lekang dimakan zaman.

Penjelasan

Dalam Mu’jam Lisanu al-Arab karya Ibnu Mandhur, juz 5 disampaikan bahwa hijrah secara bahasa bermakna:
الخروج من الأرض إلى الأرض
“Migrasi dari satu belahan bumi ke belahan bumi yang lain” (Ibn Mandhur, Lisan al-’Arab, Beirut: Dar Shadr, 1414 H: 5/250).
Makna khuruj seperti di atas memiliki kesamaan dengan firman Allah ﷻ yang berbunyi:

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu sembari khawatir. Dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang aniaya ini!” (QS Al-Qashash [28] : 21)
Ayat ini seolah juga menjelaskan bahwa migrasinya Nabi Musa 'alaihissalam dari kota Mesir ke kota Kanaan adalah juga merupakan peristiwa hijrah. Dalam ayat ini juga seolah digambarkan bahwa proses migrasinya Nabi Musa adalah didahului sebuah peristiwa yaitu ancaman dari Fir’aun dan bala tentaranya yang hendak membunuhnya. Sebagaimana hal ini disampaikan dalam firman Allah ﷻ dalam ayat sebelumnya:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ
“Lalu datanglah seorang laki-laki dari tengah kota sambil berjalan. Dia berkata: Wahai Musa, sesungguhnya Fir’aun dan bala tentaranya sedang mencarimu hendak membunuhmu. Maka keluarlah (dari kota Mesir ini)! Sesungguhnya aku kepadamu termasuk orang yang memberi nasehat.” (QS Al-Qashash [28] : 20)

Di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa laki-laki yang datang dan memperingatkan Nabi Musa alaihissalam tersebut adalah seorang malaikat. Ia datang sembari membawa kuda dan menjadi penunjuk jalan.

Jadi, makna hijrah sebagaimana tergambar dalam dua ayat di atas, seolah-olah menunjuk pada pengertian ada sesuatu kekuatan zalim yang ditakuti sehingga memaksanya untuk melakukan migrasi dari suatu daerah ke daerah lain. Makna lain dari hijrah adalah selain karena tujuan “menjauhi” sebuah perbuatan, juga disebabkan karena tujuan mencari keselamatan diri dan jiwa, alih-alih selamat akhirat..

Untuk hijrah yang bermakna menjauhi sebuah perbuatan, dapat diketahui dari firman Allah ﷻ sebagai berikut:
مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ 
Artinya: “Dengan menyombongkan diri terhadap Al-Qur’an dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya (Al-Qur’an) pada waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.” (QS Al-Mu’minun [23]: 67)
Dalam Terjemah Al-Qur’an versi Kementerian Agama RI, lafadh تهجرون diikatkan maknanya dengan kalimat سامرا . Arti leksikal dari سامرا adalah percakapan di malam hari. Sementara itu makna تهجرون bermakna “di saat kalian menjauhi”. Dengan demikian, bila dirangkai dalam satu rangkaian kalimat, maka seolah maksud dari ayat ini adalah “mereka membicarakan Al-Qur’an dengan perkataan-perkataan keji di malam hari saat kalian sedang tidak ada di sisi mereka.” Jika ditelusuri lebih jauh, makna ini tampaknya menemukan kesesuaian dengan yang disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir-nya. Ia sembari menukil sebuah riwayat tafsir dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh al-Nasai dan dimuat dalam Kitab Sunan-nya sebagai berikut:

عن ابن عباس أنه قال : إنما كره السمر حين نزلت هذه الآية : ( مستكبرين به سامرا تهجرون ) ، فقال : مستكبرين بالبيت ، يقولون : نحن أهله ، ( سامرا ) قال : يتكبرون [ ويسمرون فيه ، ولا ] يعمرونه ، ويهجرونه
“Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, ia berkata: Sesungguhnya percakapan di malam hari amat dibenci saat turunnya ayat ini (مستكبرين به سامرا تهجرون). Lalu ia melanjutkan: “Mereka telah berlaku takkabur dengan baitullah. Mereka berkata: Kami adalah ahlinya.” Lalu terhadap makna (سامرا), Ibnu Abbas berkata: Mereka menyombongkan diri (dengan membicarakan di malam hari dalam baitullah, padahal mereka tiada pernah memakmurkannya), justru menjauhinya.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir)

Makna hijrah dalam riwayat tafsir ini secara jelas menunjuk kepada pengertian menjauhi dan meninggalkan suatu perbuatan. Jika dirujuk ke konteks orang mukmin, maka perbuatan menjauhi dan meninggalkan ini sudah pasti ditujukan pada menjauhi dan meninggalkan perbuatan yang aniaya, sebagaimana digambarkan dalam ayat sebelum QS. Al-Mu’minun [23]: 67 ini, yaitu:

بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هَٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِّن دُونِ ذَٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ (63) حَتَّىٰ إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِم بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ (64) لَا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ ۖ إِنَّكُم مِّنَّا لَا تُنصَرُونَ (65) قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ تَنكِصُونَ (66)
“Tetapi, hati mereka (orang-orang kafir) itu dalam kesesatan dari (memahami Al-Qur’an) ini, dan mereka mempunyai (kebiasaan banyak mengerjakan) perbuatan-perbuatan lain (buruk) yang terus mereka kerjakan (63) Sehingga apabila Kami timpakan siksaan kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di antara mereka, seketika itu mereka berteriak-teriak meminta tolong (64) Janganlah kamu berteriak-teriak meminta tolong pada hari ini! Sungguh, kamu tidak akan mendapat pertolongan dari Kami (65) Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Qur’an) selalu dibacakan kepada kamu, tetapi kamu selalu berpaling ke belakang (66)” (QS Al-Mu’minun [23]: 63-66).

Berbekal QS Al-Mu’minun [23] ayat 67, maka perbuatan yang hendak dijauhi melalui mekanisme hijrah, khususnya bagi kalangan mukmin adalah sebagai berikut:

1. Menjauhi perbuatan maksiat yang terus-menerus dan kesesatan (QS Al-Mu’minun [23]: 63)

2. Hidup bermewah-mewahan tanpa mau untuk bersikap prihatin sehingga ketika ditimpa cobaan, mengeluh seolah telah mendapat musibah dari Allah ﷻ (QS Al-Mu’minun [23]: 64)

3. Jika ingin Allah ﷻ menolong kita, maka seyogianya kita menolong agamanya Allah ﷻ di kala waktu senggang. (QS Al-Mu’minun [23]: 65)

4. Hendaknya hati seorang mukmin senantiasa mau membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan.

5. Semua upaya ini mutlak harus dilakukan oleh seorang mukmin meskipun harus berkorban dengan meninggalkan wilayah atau harta yang dimiliki, manakala tidak memungkinkan diri untuk melakukan dakwah, sebagaimana tergambar dari QS Al-Qashash [28] : 21.

Makna Hijrah

Inilah gambaran dari hijrah yang bermakna menjauhi dan meninggalkan. Perbuatan yang ditinggalkan adalah perbuatan jelek, berbuat maksiat terus-menerus dan dalam kesesatan. Perbuatan dan kondisi yang dituju adalah antitesa dari perbuatan tersebut, yaitu perbuatan baik, senantiasa berlaku taat dan dalam bingkai petunjuk. Semua itu bisa didapat jikalau sosok Muslim ini mau senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk.

Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an al-Karim:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang menggerakan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar” (QS al-Isra [17]: 9).

Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang berisi petunjuk yang paling lurus dan paling baik serta sebagai pemberi kabar gembira bagi orang yang beriman agar senantiasa “aktif” dalam melakukan amal kebajikan (ya’malûnash shâlihât). Keaktifan ini merupakan yang dijanjikan oleh Allah ﷻ sebagai sebab perolehan pahala yang besar kelak dari sisi-Nya.

Aktif merupakan antitesa dari pasif. Pribadi yang aktif merupakan sosok yang bergerak dan inovatif melalui peran potensi akal dan budi daya yang dimilikinya. Syariat menghendaki agar umat manusia menjadi makhluk yang berperadaban dan berbudaya. Sebagaimana hal ini disinggung dalam firman Allah ﷻ:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

"Baginya (manusia), ada malaikat-malaikat yang senantiasa menjaganya secara bergiliran, dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaga atas perintah Allah ﷻ. Sesungguhnya Allah tiada akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan atas suatu kaum, maka tiada yang bisa menolaknya. Tiada bagi mereka penolong selain-Nya" (QS al-Ra'du [13]: 11).

Ayat di atas seolah menegaskan bahwa hendaknya seorang pribadi yang beriman memiliki watak dan mental agresif dan inovatif dalam melakukan perubahan. Agresif dan inovatif ini yang selanjutnya mendapatkan penekanan dari hadits Umar radliyallahu 'anhu sebagai mental hijrah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
"Sesungguhnya sempurnanya amal tergantung pada niat. Dan sesungguhnya bagi tiap-tiap individu apa yang dia niatkan. Maka, barangsiapa hijrah niat karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu akan menjadi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya niat karena dunia yang akan didapatnya, atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan terhenti pada obsesi yang dimilikinya" (HR Bukhari - Muslim).

Berangkat dari pemahaman hadits ini, konsepsi hijrah seolah beriringan dengan konsep jihad. Jihad dalam hal ini bermakna sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk menjadi agen perubahan. Jika dikorelasikan dengan QS al-Isrâ [17]: 9 sebelumnya, maka perubahan yang dikehendaki oleh syariat adalah perubahan menuju pada kondisi shâlihât (kebaikan).

Diksi dari al-shâlihât, merupakan bentuk isim musytaq (turunan kata) dari sha-la-ha yang memiliki arti leksikalnya sebagai berikut:


  • زال عنه الفساد = hilangnya sumber penyebab kerusakan
  • صَلَحَ  الشيءُ: كان نافِعاً أو مُناسِباً = Bermanfaat dan sesuai (cocok)
  • صلحَ  أَمْرُهُ أَوْ حَالُهُ : صَارَ حَسَناً وَزَالَ عَنْهُ الْفَسَادُ، عَفَّ، فَضُلَ = menjadi baik dan hilangnya penyebab kerusakan
  • عملٌ لاَ  يَصْلُحُ  لِشَيْءٍ : لاَ يُفِيدُ = faedah
  • هذا يَصْلُحُ  لَكَ : يَنْفَعُكَ، يَلِيقُ لَكَ = bermanfaat dan pas (cocok)
  • يصلُحُ  لِهَذَا الْعَمَلِ : يُنَاسِبُهُ = sesuai
  • صلَحَ  فِي عَمَلِهِ : لَزِمَ الصَّلاَحَ = berupaya melakukan kebaikan


Walhasil, makna al-shâlihât dari sisi etimologinya memuat berbagai maksud yang dikandung seperti: berbuat baik, bermanfaat, bagus, berfaedah, damai, menghindari kerusakan, kesesuaian. Ketiadaan damai, perilaku mubazir, sikap yang menimbulkan kerusakan, adalah makna yang tidak dikehendaki dari al-shâlihât. Bila term ini kemudian dilekatkan dengan term hijrah, maka seolah keduanya menunjuk pada makna bahwa hijrah itu hendaknya menjauhi perbuatan tak berfaedah, berbuat kerusakan, berusaha mewujudkan kondisi baik, damai, dan bermanfaat. Dan semua ini perlu dilakukan melalui sebuah pengorbanan tenaga, jerih payah, akal dan budi daya yang besar sebagaimana digambarkan dalam sejarah perjalanan sirah nabawiyah.

Di dalam Al-Qur’an, ada kurang lebih 31 ayat yang berbicara mengenai hijrah, tersebar dalam 17 surat. Sebanyak 24 ayat di antaranya terdapat dalam surat madaniyah (turun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, red), dan 7 lainnya terdapat dalam surat makkiyah (turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, red). Jika surat madaniyah merupakan representasi dari surat yang berbicara tentang hukum dan tatanan, maka secara umum konsep hijrah dalam syariat adalah berkaitan dengan persoalan hukum dan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada tatanan sosial. Hijrah yang berkonsekuensi keras hanya dibicarakan sebanyak 7 kali saja dalam surat makkiyah. Dengan melihat fakta sebaran ayat ini, maka seolah mengisyaratkan bahwa sudah selayaknya di era modern seperti sekarang, bentuk pengamalan dari hijrah adalah tetap mempertahankan konsepsi damai itu, dengan tanpa meninggalkan kreativitas dan inovasi berpikir serta budaya.

Kesesuaian Makna Hijrah Dan Jihad

Senada dengan term “hijrah” di dalam Al-Qur’an, terminologi jihad bisa diketemukan dalam 17 surat, dan tersebar dalam 41 ayat. 35 ayat masuk kelompok surat madaniyyah dan 6 ayat sisanya masuk kelompok surat makkiyah. Walhasil, ada kesesuaian antara hijrah dan jihad dari sudut pandang penekanan usaha. Hanya sebagian kecil sisanya berbicara mengenai perang dengan mengambil jalur konfrontatif.

Semoga tulisan ini bermanfaat dalam memberikan kilas wawasan tentang hijrah dan jihad di tahun baru Islam, 1441 H ini. Selamat Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1441 H!

Artikel ini sudah tayang di : https://islam.nu.or.id/
Asep Rois
Asep Rois Memandang masa depan itu harus melibatkan kebaikan dalam prasangka. Kemudian melangkah dalam jalur proses dengan penuh keyakinan pada kemampuan diri sendiri.

Posting Komentar untuk "Penjelasan Makna Hijrah Dan Aplikasinya Di Era Digital"

Silahkan Berlangganan Via Email