Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indikatator Muslim Yang Baik, Bermanfaat Bagi Orang Lain

Indikatator Muslim Yang Baik, Bermanfaat Bagi Orang Lain | Islam adalah agama yang mengharuskan pemeluknya untuk menyebarkan kedamaian ke seluruh penjuru dunia. Sesuai dengan tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh Alam.

Kata rahmah berarti kasih sayang yang diberikan, tidak hanya dari muslim satu ke muslim lainnya, tetapi kepada seluruh manusia dimuka bumi dengan tidak memandang ras, suku dan agama, bahkan dengan seluruh makhluk yang ada dialam ini, termasuk tanah dan bebatuan.

Indikatator Muslim Yang Baik, Bermanfaat Bagi Orang Lain

Oleh karenanya di dalam hidup ini, seorang mukmin tak perlu berupaya untuk menjadi seseorang yang disegani dan apalagi ditakuti. Tetapi cukup menjadi seseorang yang berguna bagi siapa pun yang ada disekeliling kehidupannya, termasuk lingkungan tempat dimana dia bernaung.

Hal itu sangat sesuai dengan salah satu tujuan diciptakannya manusia, yakni sebagai kholifah. Ini secara tegas disebutkan didalam al-Qur`an :
“Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu berkata kepada malaikat , ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah’. Berkata mereka, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?’. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah : 30)
Manusia diberi kedudukan sebagai khalifah Allah dengan kadar, tingkat kemampuan dan derajatnya, dalam hubungannya secara pertikal dengan Allah (hablum minallah) ataupun hubungan horizontal antar sesama manusia (hablum minan nas). Khalifah yang berarti sebagai pengganti, Manusia diberi wewenang sesuai dengan potensi diri dan posisinya dalam kehidupan ini. Namun manusia harus paham bahwa wewenang itu pada dasarnya sebagai tugas yang harus di emban serta dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Bentuk tugas kekhalifahan manusia dalam Al Qur’an biasa disebut sebagai imaratul ardh (memakmurkan bumi) dan ibadatullah (beribadah kepada Allah). Allah menciptakan manusia dari bumi ini dan menugaskan manusia untuk melakukan imarah dimuka bumi dengan mengelola dan memeliharanya. Karena manusia dalam melaksanakan tugas dan wewenang imarahnya sering melampaui batas, sering melanggar dan bahkan mengambil hak saudaranya, maka Allah memberikan solusi dengan cara bertaubat kepada-Nya.

Imaratul ardh yang berarti mengelola dan memelihara bumi, mulai dari mengelola diri sendiri, keluaraga dan tetangga hingga mengelola sumberdaya alam yang ada sehingga bisa dimanfaatkan sebagai sarana meningkatkan pengabdian kepada Allah swt. Disamping itu dituntut untuk memelihara yang telah ada agar bisa tumbuh berkembang demi kemanfaatan dimasa depannya.

Untuk mencapai tujuan kekholifahan itu seorang muslim harus mau berupaya menjadikan dirinya sebagai pribadi yang mampu memaksimalkan pikir dan ikhtiar. Sehingga dia menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain serta alam yang ada disekelilingnya.

أحب العباد الى الله تعالى أنفع الناس للناس
"Hamba yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah manusia paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya" (al-hadits)
Dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa;
خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Menjadi pribadi yang bermanfaat sebagai salah satu karakter yang sejatinya sangat dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim harus tunduk pada perintah untuk memberikan manfaat bagi orang lain dalam kehidupannya. Bukan hanya untuk mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain demi kepentingan sendiri saja, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Tiada kemanfaatan yang diberikan melainkan kebaikannya akan kembali pada sipemberi.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ…
“...Jika kalian berbuat kebaikan, sesungguhnya kalian berbuat kebaikan bagi diri kalian sendiri …” (QS al-Isrâ/ 17: 7) 
Rasulullah saw pernah bersabda:
… وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
“… dan barangsiapa (yang bersedia) membantu keperluan saudaranya, maka Allah (akan senantiasa) membantu keperluannya.” (Hadits Riwayat Bukhari)
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.
“Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 71, hadits no. 7028, dari Abu Hurairah r.a.)
Menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat, alasan mengupayakannya ialah untuk memaksimalkan perannya sebagai Kholifatullah fil ardh. Selain itu, salah satu dari indikator muslim yang baik adalah bermanfaat bagi orang lain.

Cara Membangun Pribadi Menjadi Muslim Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Al-Qur`an sebagai kitab suci yang memandu manusia untuk menjalani kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya, telah memberikan pedoman yang menunjukan cara bagaimana seorang muslim memiliki karakter sebagai pribadi yang bermanfaat. Allah berfirman:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yûsuf/12: 53)
Pada suatu ketika, Imam Hasan al-Bashri menyuruh beberapa muridnya untuk membantu memenuhi kebutuhan seseorang. Dia meminta, “Temuilah Tsabit al-Bunani dan pergilah kalian bersamanya.” Kemudian, mereka mendatangi Tsabit yang ternyata sedang (melakukan) i’tikaf di dalam sebuah masjid. Namun, Tsabit meminta maaf, karena tidak bisa pergi bersama mereka. Mereka pun kembali lagi kepada Hasan al-Bashri dan memberitahukan perihal penolakan Tsabit.

Lalu Hasan berkata, “Katakanlah kepadanya, ‘Hai Tsabit, apa engkau tidak tahu bahwa langkah kakimu dalam rangka menolong saudaramu sesama muslim itu lebih baik bagimu daripada ibadah haji yang kedua kali?’“ Kemudian, mereka kembali menemui Tsabit dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri. Maka, Tsabit pun meninggalkan i’tikafnya dan pergi bersama mereka untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan.

Banyak cara bisa dilakukan agar menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Bisa dengan menolong dalam bentuk sumbang pemikiran, tenaga, memberikan bantuan materi, memberi pinjaman, memberikan taushiyah keagamaan, meringankan beban penderitaan kendati hanya dengan sesuap nasi, membayarkan utang, hingga menyisihkan waktu untuk menjenguk dan menunggu tetangga yang sakit.

Pemimpin yang baik akan memberikan manfaat bagi bawahannya, sebagaimana penguasa yang adil pun akan meberi manfaat bagi rakyat yang dipimpinnya. Bahkan, membuat orang lain menjadi gembira juga termasuk salah satu perbuatan bermanfaat yang dicintai oleh Allah SWT.

Ironi, jika banyak orang kaya yang lebih senang naik haji berulang kali daripada membantu kaum dhuafa’ yang membutuhkan uluran tangan. Banyak juga orang kaya yang berlomba-lomba membangun masjid yang megah, sedangkan di sekelilingnya masih banyak kaum fakir-miskin yang sangat membutuhkan bantuan. Padahal, Allah tidak butuh disembah hambanya dengan indahnya masjid ataupun ibadah haji yang berulang-ulang.

Mari Bermuhasabah!

Pernahkah kita berfikir untuk beramal saleh dengan cara ‘memberi manfaat’ kepada semua orang yang berinteraksi dengan diri kita?, atau beramal saleh dengan cara berbuat baik kepada sesama makhluk Allah, yang lebih kita prioritaskan dalam situasi dan kondisi tertentu daripada sekadar membangun kesalehan spiritual yang tak banyak berguna bagi orang lain?

Siapapun tak perlu mengatakan bahwa urusan akhirat itu lebih penting daripada urusan dunia, atau sebaliknya. Karena keduanya saling melengkapi seperti dua sisi mata uang.

Ingat firman Allah,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS al-Qashash/28: 77)

5 Langkah Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat

Banyak cara untuk menjuju roma begitu juga untuk menjadi orang yang bermanfaat. Namun yang perlu diingat cara tidaklah penting, karena yang paling penting adalah niatan untuk membangun pribadi agar lebih bermanfaat untuk orang-orang disekeliling kita dan mewujudkannya. Berikut ini hanya sebagai inspirasi yang mungkin akan memberikan manfaat untuk membantu niatan baik

1. Menumbuhkan Kemauan

Salah satu kunci untuk membangun pribadi yang bermanfaat adalah kemauan. Kemauan Anda akan dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Jika Anda memunyai kelebihan harta, Anda bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan harta. Jika Anda memunyai ilmu dalam satu atau berbagai bidang, Anda bisa memberikan manfaat dengan ilmu yang Anda miliki kepada orang lain. Jika Anda hanya memunyai tenaga, Anda bisa memberikan manfaat dari tenaga Anda kepada orang lain.

Inilah langkah awal yang bisa Anda lakukan. Anda harus memiliki kemauan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Bagaimana pun kondisi Anda. Jangan malah sibuk dengan mencari-cari cara untuk mendapatkan manfaat dari orang lain dan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan sendiri.

Jadi kata kunci awal yang harus dimiliki adalah “kemauan”.

2. Segera Take Action Now (Lakukan Sekarang)

Mungkin dibenak Anda muncul pertanyaan "Apa yang bisa Anda ‘lakukan sekarang’ untuk memberikan manfaat kepada orang lain?" Sangat mudah, sekarang juga Anda bisa membagikan artikel ini melalui medsos (facebook, IG atau twitter) Anda, misalnya. Ini jauh lebih baik karena bisa memberikan manfaat kepada teman-teman Anda daripada sibuk mengupdate status yang tidak penting, bahkan hanya berisi keluhan dan caci maki orang lain.

Cobalah sekarang!, menataplah kesekeliling Anda, adakah orang lain yang bisa Anda bantu?. Adakah sesuatu yang bisa Anda lakukan sekarang juga untuk memperbaiki lingkungan, rumah, atau kantor Anda? Akan ada banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain dari semua itu.

Lakukan sekarang apa yang bisa Anda lakukan!

3. Bangun Kebiasaan Untuk Memberikan Manfaat 

Cobalah untuk menciptakan kebiasaan baru dengan cara memberikan manfaat kepada orang lain disetiap situasi dan kondisi yang Anda lalui. Jika Anda sudah memiliki kebiasaan itu -bagus!-, maka Anda tinggal meningkatkannya.

Jangan keliru!. Banyak orang yang melakukan kebaikan dengan cara membantu orang orang lain. Tetapi hal itu belum menjadi kebiasaan, melainkan baru sebatas mau melakukan. Kebiasaan itu apabila sudah dilakukan dengan konsisten, bahkan tanpa harus mikir-mikir dulu.

Biasakan diri Anda untuk berbagi kemanfaatan disetiap saat dan keadaan!

4. Meningkatkan Manfaat Bagi Diri Sendiri Dan Orang Lain

Harus ditingkatkan? Tentu saja! Sebab menurut hadits di atas tidak hanya mengatakan menjadi pribadi yang bermanfaat, tetapi ada kata ‘superlatif’, yaitu paling. Artinya Anda ditantang untuk menjadi juara dalam kebaikan. Anda harus menjadi yang paling memberikan manfaat kepada orang lain. Bukan sekadar memberikan manfaat.

Bagaimana cara meningkatkan manfaat diri Anda? Ya, Anda harus meningkatkan kuantitas dan kualitas kebaikan Anda. Kuantitas bisa dilihat dari frekuensi dan besarnya apa yang Anda berikan kepada orang lain. Sementara kualitas manfaat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas diri Anda, yaitu dengan meningkatkan keterampilan dan kemampuan Anda, sehingga apa yang Anda berikan semakin bermanfaat.

5. Mengambil Juga Manfaatnya Untuk Diri Sendiri

Jangan sampai ‘Anda’ memberikan manfaat kepada banyak orang, tetapi (lupa) ‘tidak’ memberikan manfaat untuk diri Anda sendiri. Jangan salah faham! Saya sama sekali tidak mengatakan agar kita berharap dari orang yang kita berikan manfaat. Bukan itu! Namun, yang saya maksud adalah: kita harus menghindari dari semua penghapus pahala amal itu, yaitu: “ketidak ikhlasan atau riyâ’.”
Jadi, agar kita benar-benar mendapatkan dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan hanya amal yang diterima Allah SWT yang akan memberikan manfaat kepada kita dunia dan akhirat.

Niatkan, bahwa apa yang kita lakukan hanya karena Allah, bukan karena ingin disebut pribadi yang bermanfaat (pujian). Penyakit riyâ’ sungguh tidak terlihat, sangat samar, sehingga kita harus hati-hati.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw pernah bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ . فَقَامَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ حَزْنٍ ، وَقَيْسُ بْنُ المُضَارِبِ فَقَالاَ : وَاللَّهِ لَتَخْرُجَنَّ مِمَّا خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ . فَقَالَ لَهُ : مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ ، وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : قُولُوا : اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ.
“Pada suatu hari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari langkah semut.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?” Maka beliau menjawab: “Berdoalah dengan membaca, ‘Allâhumma innâ na’ûdzu bika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu wa nastaghfiruka limâ lâ na’lamuhu (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Abu Musa al-Asy’ari, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz IV, hal. 403, hadits no. 19835)
Tetapi, jangan khawatir! Sekecil apa pun amal saleh Anda, Allah akan membalasnya dengan pahala yang sepadan dengannya. Sebagaimana firmanNya:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya .” (QS al-Zalzalah/99: 7)
Muslim yang baik adalah ia yang telah memenuhi salah satu indikator pentingnya yaitu Bermanfaat bagi orang lain. Semoga ini bisa menginspirasi banyak orang termasuk Anda yang saat ini sedang membaca tulisan ini.

Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada teman-teman dan orang terdekat Anda, agar lebih bermanfaat. Sebaik-baik orang adalah yang mau berbagi kemanfaatan bagi orang lain. Praktekan sekarang juga!

Wallâhu a’lamu bish-shawâb.
Asep Rois
Asep Rois Memandang masa depan itu harus melibatkan kebaikan dalam prasangka. Kemudian melangkah dalam jalur proses dengan penuh keyakinan pada kemampuan diri sendiri.

Posting Komentar untuk "Indikatator Muslim Yang Baik, Bermanfaat Bagi Orang Lain"

Silahkan Berlangganan Via Email