Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Amal yang akan diterima oleh Allah swt

Amal yang akan diterima oleh Allah swt - Selain ibadah yang mahdlah setiap orang diperbolehkan mengamalkan ibadah sunnah apapun sesuai keinginannya. Seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sholawat, dzikir, sedekah dan berbagai hal yang disunnahkan. Namun ada satu hal yang penting menjadi catatan, status amal yang akan diterima oleh Allah swt.

لا عمل أرجي للقبول من عمل يغيب عنك شهوده ويتحقر عندك وجوده
“Tiada amal yang paling diharapkan untuk diterima selain amal yang lenyap dari pandanganmu dan keberadaannya sepele menurutmu.” (Syekh Ibnu Athaillah)

Memang sebagai manusia, terkadang sangat rindu dengan derajat dan kedudukan serta hal-hal yang menyangkut perasaan bangga atas apa yang telah dilakukan. Sering pula menjadikan sesuatu yang telah dilakukan dimasa lalu sebagai jembatan untuk meraih sesuatu yang diharapkan pada masa selanjutnya. Tetapi, hikmad dari Syekh Ibnu Athoillah diatas, benar-benar mengingatkan, bahwa segala sesuatu yang sudah berlalu sebaiknya tidak lagi di ingat-ingat kembali.

Amal ibadah yang akan diterima oleh Allah swt menurut ibnu athoillah

Setiap amal yang masih di ingat-ingat, menandakan amal itu belum sampai kepada tempatnya, karena masih terus ditahan oleh nafsu yang punya amal. Tempat akhir untuk menyemayamkan amal ada di sisi Allah swt.

“Setiap hal dari amal-ibadahmu yang berkaitan dengan pandanganmu menjadi tanda penolakan atas amal tersebut. Pasalnya, penerimaan amal itu adalah sesuatu yang diangkat dan lenyap darimu. Sedangkan keterputusan amal ibadah dari pandanganmu menjadi tanda penerimaan atas amal tersebut". Ali bin Husein RA

Salah satu alamat yang menandakan bahwa setiap amal yang sudah sampai dan diterima disisi Allah swt. adalah amal yang sudah tidak ada lagi didalam ingatan seseorang. Sedikit saja amal itu terkenang-kenang di benak seseorang maka sama dengan amal itu belum sampai diahadapanNya dan masih berada diantara diri seseorang dan Allah swt.

Oleh karena itu, setiap orang beriman harus belajar melupakan dan mengabaikan amal ibadahnya yang telah dilakukan dimasa lalu, baik dekat atau sudah lama. Caranya adalah dengan membiasakan diri untuk selalu memandang setiap amal yang dilakukan ada dalam koridor kewajaran dan tidak menganggap sebagai sesuatu yang istimewa. Dengan cara itu, berarti tidak lagi menempatkan nafsu sebagai pengukur atas kehebatan amal yang telah dilakukan, melainkan nafsu dijadikan sebagai potensi untuk mendorong kemauan melakukan amal kebaikan dengan lebih semangat lagi.


Pada prinsipnya setiap amal yang dilakukan hakikatnya bukanlah milik seseorang, tetapi harus di tegaskan kepada diri sendiri, bahwa amal yang telah dilakukan itu adalah milik Allah swt. Manusia tidak berhak memilikinya. Memaksa untuk memilikinya sama dengan tidak ingin amal ibadahnya diterima oleh Allah swt.
"Tiada amal yang paling diharapkan dalam hati untuk diterima dan dipetik manfaatnya untuk menghasilkan buah cahaya, makrifat, kesempurnaan, pahala, dan sebagainya selain amal yang lenyap dari pandanganmu karena menyaksikan Allah sehingga kau tidak melihat hubungan dirimu dan amal itu. Bahkan kau sendiri tak mengetahui keberadaan substansi amal itu. Tiada amal yang paling diharapkan selain amal yang keberadaannya sepele menurutmu karena di dalamnya mengandung kekurangan serta cacat baik yang nyata maupun tersembunyi.
 Penjelasan ini menegaskan, bahwa belajar memandang segala sesuatu yang telah dilakukan oleh diri sendiri itu adalah sebuah kewajaran. Bahkan lebih jauhnya lagi sebagai nikmat yang diberikan dan tidak dapat di balas dengan sesuatu apapun, selain dengan mensyukuri nikmat kemampuan melakukan amal kebaikan itu. Hal ini diperkuat dengan lanjutan penjelasan berikut ini;
Simpulannya, ia memandang dirinya lalai pada amal itu dan memandang di tengah kelalaiannya karunia Allah karena dari segi zatnya ia tak layak atas anugerah itu dan siapa dia sampai diberikan taufiq di suatu hari. Tanpa anugerah itu, ia akan dicampakkan di zat-zat yang hina, bahkan di lembah hina kekufuran dan kemunafikan. Semoga Allah memberikan perlindungan-Nya untuk kita. amiiin," (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431, halaman 65).

Jadi, pesan yang terakandung di dalam hikmah dari Ibnu Athoillah ini adalah;

  1. Bila melakaukan amal niatkan sebagai ibadah
  2. Pandanglah setiap amal perbuatan yang dilakukan rendah, tinggi atau biasa-biasa saja sebagai bentuk kewajaran dari pengalaman
  3. Tidak perlu mengingat apa yang sudah dilakukan, tapi sering-seringlah membuat agenda untuk amal ke depan

Dengan begitu, semoga setiap amal yang akan dilakukan tidak membuat seseorang menjadi takabur tetapi disisi lain tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dilakukan, melainkan semakin semangat untuk terus meningkatkan kwalitas amalnya dimasa depan.

Semoga tulisan ini, memberikan inspirasi buat kita semua, agar lebih fokus pada melaksanakan amal perbuatan semaksimal mungkin, amal yang disertai dengan produktifitas dan kapasitas yang terus meningkat tanpa harus memperdulikan apa dan apa yang akan didapatkan. Karena prinsip utamanya  adalah apapun yang dilakukan hakikatnya adalah miliki Allah swt. semakin baik dalam mengamalkannya maka sudah pasti akan baik pula menurut Allah.swt. sehingga harapan yang ada di dada yang diaktualisasikan kedalam perbuatan dengan setulus hati menjadi amal yang akan diterima oleh Allah swt.
Asep Rois
Asep Rois Memandang masa depan itu harus melibatkan kebaikan dalam prasangka. Kemudian melangkah dalam jalur proses dengan penuh keyakinan pada kemampuan diri sendiri.

Posting Komentar untuk "Amal yang akan diterima oleh Allah swt"