Mengapa Hati Gelisah? Jawaban Al-Qur'an atas Keresahan Batin

Table of Contents

Mengapa Hati Gelisah? Jawaban Al-Qur'an atas Keresahan Batin

mengapa hati gelisah?

Pendahuluan

Ada hari-hari ketika segalanya tampak baik-baik saja, namun hati tetap merasa gelisah. Tidak ada masalah besar, tidak ada musibah nyata, tetapi jiwa seakan kehilangan arah. Keresahan semacam ini sering kali tidak disadari sebabnya, namun dampaknya terasa nyata—lelah, cemas, dan kehilangan ketenangan.

Islam tidak menafikan kegelisahan batin. Justru Al-Qur'an berbicara banyak tentang kondisi hati manusia dan memberikan jawaban yang lembut sekaligus mendalam. Artikel ini menjadi pendamping reflektif untuk memahami mengapa hati bisa gelisah dan bagaimana Al-Qur'an mengarahkan kita kembali kepada ketenangan.

Hati yang Jauh dari Mengingat Allah

Allah ï·» berfirman:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124)

Kegelisahan sering bukan berasal dari keadaan, melainkan dari jarak antara hati dan Allah. Ketika dzikir mulai jarang, Al-Qur'an jarang dibuka, dan doa hanya menjadi rutinitas, hati perlahan kehilangan sandarannya.

Terlalu Menggenggam Dunia

Manusia diciptakan dengan fitrah mencintai dunia, namun kegelisahan muncul ketika dunia digenggam terlalu erat. Al-Qur'an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan ketenangan sejati berada pada hati yang tidak bergantung sepenuhnya pada apa yang fana.

"Ketahuilah, kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau." (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini bukan melarang menikmati dunia, tetapi mengingatkan agar hati tidak menjadikannya tujuan utama.

Hati yang Lelah oleh Luka yang Dipendam

Tidak semua kegelisahan lahir dari dosa. Sebagian berasal dari luka—kekecewaan, kehilangan, dan harapan yang tidak terwujud. Al-Qur'an hadir sebagai teman bagi hati yang terluka, mengajarkan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang disembunyikan dalam dada.

"Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. Al-Mulk: 13)

Kesadaran bahwa Allah mengetahui seluruh beban batin sering kali menjadi awal dari ketenangan.

Kembali Menata Hati dengan Al-Qur'an

Ketenangan tidak datang dengan menghilangkan masalah, tetapi dengan menguatkan hati. Al-Qur'an menata ulang cara pandang manusia terhadap hidup—tentang sabar, tawakal, dan harapan.

Mulailah dengan mendekat secara sederhana: membaca satu ayat, merenungi satu makna, dan berdoa dengan jujur. Dari situlah hati perlahan dipulihkan.

Penutup

Kegelisahan bukan tanda lemahnya iman, tetapi sinyal bahwa hati membutuhkan Allah. Al-Qur'an tidak menuntut kesempurnaan, hanya kejujuran untuk kembali.

Jika hari ini hati terasa gelisah, jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri. Mungkin yang dibutuhkan hanyalah duduk sejenak, membuka Al-Qur'an, dan membiarkan ayat-ayat-Nya menenangkan jiwa.

Posting Komentar